D2K’s Blog

Not an expert, but just wanna be better by share and Learn together

  • My Social Network

    Facebook

    Twitter

  • Calendar

    April 2010
    M T W T F S S
    « Mar   Nov »
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Priok Berdarah

Posted by d2k on 15 April, 2010

Priok Berdarah

Ketika membaca postingan ini mungkin banyak para pembaca yang memutar memorynya ke awal era 80-an tentang tragedi Tanjung Priok yang sempat menorehkan sejarah yang tidak pernah dilansir secara resmi dan terbuka ke publik. Namun pada postingan kali ini, Priok berdarah yang saya maksud adalah peristiwa yang terjadi kemarin pagi antara Satpol PP dengan warga yang mempertahankan makam Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad atau dikenal Mbah Priok yang akan dibongkar oleh Satpol PP.

Sejak pagi hari sudah terlihat banyak warga yg berjaga-jaga di depan makam Mbah Priok. Massa ini mencegah upaya eksekusi yang akan dilakukan oleh Petugas Satpol PP kemarin dengan dalih bahwa lahan makam Mbah Priok ini adalah milik PT. Pelindo yg dibeli dari Pemerintah Koja Jakut. Memang masih ada perseteruan masalah klaim kepemilikan lahan antara pemerintah daerah dengan pihak ahli waris dengan menunjukkan akta tanah masing-masing. Namun, di tengah persengketaan tanah yang belum selesai ini, Pemda Koja Jakut mengirimkan aparatnya untuk mengeksekusi area makam ini. Hal ini tentu memicu kemarahan warga yang menjadi pengagum dan pengikut Mbah Priok.

Akhirnya aksi lempar batu antara petugas Satpol PP yang berpakaian lengkap dalam menghadapi kerusuhan tak terelakkan. Massa yang awalnya berjaga-jaga di depan makam dipukul mundur hingga masuk ke area makam. Aksi yang seperti peperangan ini berlanjut cukup lama hingga berjatuhan korban dari kedua belah pihak dan juga aparat Kepolisian yang ada di TKP. Mengenai detail bentrokan ini bisa anda simak dari pemberitaan media-media massa yang bahkan ada menayangkan secara live.

Pada kesempatan kali ini, saya akan sedikit menyoroti penyebab bentrok ini hingga terjadi dan mengakibatkan kerugian material dan spiritual yang besar. Pendapat saya pribadi, dalam memberikan penilaian pada bentrok tersebut kita tidak bisa menyalahkan begitu saja warga yang menjadi beringas dan aparat satpol PP yang ada di lapang saja. Peristiwa ini terjadi karena kekurangjelian dan ketidakbijakan pimpinan dan penguasa yang memberikan perintah di lapang. Negara kita ini negara hukum yang berlandaskan pada Pancasila. Namun, jika mencermati tragedi Priok kemarin, jelas kelihatan bahwa pimpinan yang ada tidak memahami secara dalam implementasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Ini malah menunjukkan arogansi pemerintah dengan kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki untuk menghalalkan segala cara bahkan mengorbankan rakyatnya.

Jika memang harus dipaksakan mengeksekusi, seyogyanya pemerintah sudah menyebar agen intelijen untuk melakukan pemetaan dan estimasi apa yang terjadi jika Plan A dilakukan. Jika Plan A diestimasi akan menimbulkan dampak yang besar, harusnya sudah disiapkan Plan B, Plan C, dst. Namun sekali lagi, ini negara Pancasila dimana asas Musyawarah Mufakat menjadi dasar utama dalam penyelesaian masalah dengan didasari asas kekeluargaan. Jika ini benar-benar diimplementasikan, maka tidak akan ada berita yang bertajuk Priok Berdarah dan juga tidak ada keluarga yang menangis karena ditinggal orang yang dikasihi sebagai korbannya. Juga tidak akan ada kerugian-kerugian perangkat negara yang notabenenya dibeli dengan uang rakyat. Serta tidak ada juga anak-anak dan masyarakat sipil yang terluka. Namun, nilai-nilai luhur Pancasila ini dilakukan ketika anarkisme sudah terjadi, sehingga saya katakan TERLAMBAT. Andai saja ini dilakukan sejak awal……???

Momentum seperti ini harusnya menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran bagi kita semua agar ke depannya tidak lagi terjadi tragedi serupa yang hanya menciptakan kesedihan, kerugian, kehilangan, kengerian dan pengorbanan yang sia-sia. Satpol PP yang berjagonkan sebagai petugas Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) harus mau mengevaluasi Standard Operational Procedure (SOP) dalam menjalankan tugasnya. Alat-alat seperti pentungan, tameng, water canon, body protector taruh saja di gudang dan tidak usah beli lagi (hanya membuang-buang anggaran saja). Ganti saja dengan tikar, teko, ketela, gula dan kopi. Jadi, sebelum eksekusi menjalankan tugas, ajak duduk masyarakat yang ada sembari musyawarah untuk mengarahkan masyarakat dengan cara-cara persuasif. Jika tidak ketemu mufakat, hadirkan tokoh masyarakat setempat dan wakilnya rakyat untuk memediasi dan sebagai penengahnya. Dengan begitu maka semua nilai-nilai Pancasila benar² terimplementasikan secara benar. Ada nilai kemanusiaannya karena tidak ada anarkisme (Sila Ke-2), menumbuhkan persatuan antara rakyat dan aparat (Sila Ke-3) dengan cara musyawarah mufakat yang bijak (Sila Ke-4), sehingga hal ini akan menumbuhkan rasa keadilan bagi kedua belah pihak (Sila Ke-5) yang pastinya ini mencerminkan bangsa yang beragama (Sila Ke-1).

Selain Aparat Pemerintah, rakyat juga harus berintrospeksi diri dalam mempertahankan dan menyampaikan pendapat. Jika kekuatan rakyat tidak menggemingkan kebijakan pemerintah, sampaikan hal ini kepada wakil-wakil rakyat sebagai kepanjangan tangan kita (makanya dalam memilih wakilnya di parlemen, kita harus benar² yakin mereka bisa dipercaya untuk menampung dan memperjuangkan aspirasi kita). Rakyat juga jangan mudah terpancing emosi apalagi sampai ditunggangi oleh pihak² yang mempunyai kepentingan untuk mendiskreditkan pemerintah beserta aparatnya guna kepentingan politisnya.

Para wartawan pun juga jangan menggiring pemberitaannya yang bisa memancing emosi salah satu pihak yang berseteru. Memang ada juga efek psikologis dari pemberitaan-pemberitaan media yang mempengaruhi pola penyelesaian masalah pada masyarakat. Aksi-aksi anarkis sering dipertontonkan di layar kaca juga di koran-koran dengan bahasa yang tak jarang menyulut emosi dari kedua belah pihak yang sedang bertikai. Dan ketika ada upaya penyelesaian dengan musyawarah yang santai dan damai dengan menghasilkan win-win solution, pemberitaannya tidak sebesar aksi-aksi anarkis yang bahasannya selalu diulang-ulang hingga terngiang-ngiang terus di telinga. Inilah yang menurut saya indoktrinasi anarkisme yang bertajukkan pemberitaan aktual.

Marilah bersama-sama sebagai sesama warga Indonesia yang berlandaskan pada nilai-nilai luhur Pancasila, kita selesaikan juga setiap problematika yang ada dengan merujuk pada sumber dari segala sumber hukum ini. Insya Allah dengan demikian tatanan keidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat kita akan berjalan dengan ketentraman bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: